Kamis, 26 Juni 2014

CERPEN - You Knock Me Out


             Kewajiban! Satu kata yang sudah akrab di telinga kita. Kewajiban adalah sesuatu hal yang harus kita lakukan tanpa kecuali. Kewajiban menuntut kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin tidak kita sukai, bahkan enggan untuk dijalani. Sebenarnya, penting gak sih menjalani kewajiban itu?

 Jawabannya, PENTING. Satu hal, yang harus kita ketahui, kewajiban adalah suatu bentuk implementasi dari hak. Kewajiban adalah sesuatu yang dilakukan dengan tanggung jawab. Ingat, Tanggung Jawab!
***
Sore hari, kuputuskan bersepeda sore disekitaran Taman dekat rumahku. Dengan kaos warna oranye dan celana pendek yang kukenakan, ku bersepeda dengan santainya. Ku amati orang-orang yang datang mengunjungi taman tersebut. Tiba-tiba ada suara keras yang membuatku menoleh ke belakang dan memberhentikan sejenak sepedaku.

“Ma.. maaf, Bu. Maaf saya sungguh tidak melihat.. maaf, Bu.” Ujar Bapak tua yang sedang membawa gerobak menabrak dagangan Ibu penjual bakso keliling. Beberapa mangkuknya pun pecah dan berantakan. Seketika orang-orang didekat lokasi tersebut menghampiri.

 “Iya, Pak. Gak apa-apa.” Ujar Ibu penjual bakso sambil merapikan mangkuk.

“Ada apa, Bu?” Tanya seseorang.

“Nggak, nggak ada apa-apa, Pak. Ini agak sedikit berantakan.” Jelas Ibu tersebut dengan senyuman.

Aku pun menghampiri dan membantu memungut pecahan mangkuk.

“Wah, ganti rugi tuh, Pak.” Ujar warga yang datang.

“Ibu, saya mohon maaf. Tapi sungguh, saya tidak mempunyai uang untuk mengganti mangkuk-mangkuk Ibu.”

“Terus gimana tuh, Pak? Kasian kan Ibu ini. Bakso belum laku semua udah mecahin mangkuk.”

“Hati-hati makanya, Pak..”

“Tau.. gak liat apa, ada meja disini?”

“Wes, wes.. sudah, Pak. Tidak perlu diperpanjang. Saya sudah ikhlas, kok.” Ujar Ibu penjual bakso.

“Ikhlas bagaimana, Bu? Ini pecah semua.”

“Masih ada mangkuk lain kok, Pak. Di ember, yang belum dicuci. Terima kasih ya, Pak, Bu, sudah membantu saya merapikan ini.”

Seiring waktu, kerumunan orang-orang satu persatu pergi meninggalkan penjual bakso. Aku masih membantunya merapikan seperti semula.

“Maafkan saya ya, Bu.. Saya benar-benar tidak sengaja. Kepala saya pusing sekali.” Ujar Pak Tua.

“Bapak sudah makan?” Tanya Ibu Penjual Bakso.

“Belum, Bu. Uang saya habis dirampok sama preman didepan gang sana. Saya sedih sekali.”

“Duduklah, Pak. Saya akan membuatkan bakso untuk Bapak.”

“Te..Terima Kasih, Bu..”

Melihat sikap Ibu penjual bakso membuatku bergidik. Masih ada orang sebaiknya. Sudah ditimpa kemalangan, masih mau memberi makan bapak tua yang sudah memecahkan mangkuk di meja jualan. Aku pun segera menghampiri penjual bakso dan memesannya.

“Bu, baksonya satu ya. Pake Bihun aja.”

“Iya, neng.”

Aku segera duduk disamping Bapak Tua tadi. Melihat wajahnya yang pucat, aku sungguh iba.

“Bu. Kalau boleh, baksonya dibungkus saja ya. Saya teringat cucu saya seorang diri dirumah. saya khawatir dia belum makan.” Ujar Bapak Tua.

Aku tidak berani bertanya kepada Bapak Tua itu, wajahnya penuh penyesalan telah menghancurkan dagangan orang lain. Begitu sedihnya ia, sampai air matanya jatuh di pipi keriputnya.

“Pak, ini ada dua bungkus, yang satu untuk Bapak, dan satu untuk cucu Bapak.” Ujar Penjual Bakso sambil memberikan bungkusan Bakso.

“Subhanallah. Terima kasih, Ibu. Terima kasih.. Saya janji, saya akan menggantikan mangkuk bakso ibu, kalau saya punya uang.”

“Iya, Pak. Sama-sama. Masalah mangkuk, sudah, tidak apa-apa. Saya ikhlas.”

“Sekali lagi saya minta maaf ya, Bu. Permisi.” Ujarnya sambil pamit dengan wajah yang gembira.
Sungguh mulia Ibu ini, begitu sabar dan ikhlas. Tersadar dari lamunanku, Ibu penjual bakso pun datang menghampiriku membawa serta bakso pesananku.

“Makasih, Bu..”

“Iya Neng, Ibu juga berterima kasih ya, kamu udah mau bantuin Ibu beresin mangkuk.”

“Sama-sama, Bu. Bu, kok Ibu gak marah atau gak nuntut Bapak tadi untuk ganti rugi?”

Ibu itu pun tersenyum.

“Ibu percaya Allah punya rencana lain dibalik musibah yang Ibu alami. Anggap saja tadi teguran dari Allah, agar Ibu hati-hati.”

Seseorang laki-laki seusiaku datang menghampiri gerobak bakso.

“Bu, baksonya 30 bungkus ya. Ada kan?” Tanyanya.

Ibu tersenyum begitu lebar, ia bahagia sekali mendengar laki-laki itu datang membawa rezeki untuknya.

“Ada, Mas.. sebentar ya..” Ibu Penjual Bakso pun segera meracik bakso sesuai pesanan.

Aku tersenyum bangga pada Ibu penjual bakso ini. Begitu mulia hatinya, tutur katanya yang lembut membuat aku nyaman berbincang padanya. Hari ini aku mendapat ilmu, bahwa dibalik datangnya musibah, pasti Allah menggantikannya yang lebih baik.
***

“Suara lo tuh bagus banget, Sha. Gue suka merinding denger suara lo. Bener kata Mas Bena, Agnes Monica aja kalah sama lo. ” Puji Farhan, temanku di kelompok Paduan Suara.

“Suara lo juga bagus juga, kok” Balasku tersenyum.

Aku begitu senang mendengar pujian darinya. Sosok laki-laki yang sepertinya mulai kukagumi. Dari awal aku di audisi, dialah orang pertama yang menyapaku. Beberapa kali kata-katanya membuatku melayang bagai diatas awan. Entah, apa dia mempunyai perasaan yang sama.
***

Suatu malam, sambil mengerjakan makalah, kubuka twitter dan mengecek mention di laptopku. Banyak mention kiriman dari Farhan, yang mendukung dan menyemangatiku. Sampai akhirnya aku membuka profile dan begitu senangnya aku melihat inisial namaku disebutnya.

“Mulai jatuh cinta sama “S” ini”

S? Sasha? Aku? Apa benar Farhan menyukaiku? Ah, rasanya perasaan ini semakin menjadi-jadi.
***
Konser perdana Paduan Suaraku dimulai. Farhan begitu antusias membantuku merapikan dandanan. Dress putih dan hitam yang kukenakan begitu sepadan dengan kemeja yang dikenakan Farhan, aku terlihat cantik sore ini.

Perasaanku semakin menjadi-jadi tatkala Farhan terus berada disampingku.

“Sekarang, giliran Kelompok 3..” Ujar MC acara penyambutan anggota baru paduan suara kampusku. Kelompokku pun maju, dan tampil dengan penuh rasa percaya diri.

Konser berjalan dengan sangat lancar. Kelompokku berhasil membawakan lagu Cinta dari Chrisye dan Ekspresi dari Titi DJ dengan konsep yang sangat berbeda dari kelompok lain. Kelompokku menang juara pertama sebagai Penampilan dan Pemilihan Lagu Terbaik.

Acara ditutup dengan sesi foto-foto. Semua momen diabadikan. Aku bahagia sekali, aku berjanji akan latihan sungguh-sungguh seperti kakak-kakak senior yang berhasil menjadi Anggota Paduan Suara terbaik.

Tapi, kemana Farhan? Tak kulihat dia disekitarku? Ku arahkan pandanganku ke segala arah. Ternyata Farhan tengah berfoto dengan teman-teman cowoknya. Aku pun menghampirinya.

“Han, foto sama Kak Tisha yuk?” Ajakku.

“Duluan aja Sha, gue mau foto sama Sherly dulu.” Ujarnya sambil berlalu meninggalkanku.

“Sherly?” Aku menghela nafas.

“Sasha.. Ayo sini foto.” Panggil Dina. Aku pun menghampirinya.

Selesai acara foto, aku mengajak Hesty untuk segera pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sebenarnya, bukan hanya karena sudah malam, tapi karena aku sudah jengah diabaikan oleh Farhan, dan lebih memilih bersama Sherly.

Tanpa pamit pada Farhan seperti biasanya, aku pergi meninggalkannya yang sepertinya masih sibuk dengan urusannya. Aku pulang menuju parkiran mengambil motor bersama Hesty.
***

Saat kuliah pun, aku masih terpikir mengapa aku diacuhkan seperti tadi malam. Sherly dan Farhan sama-sama berada di Jurusan Psikologi. Sedangkan aku di Akuntansi. Jelas, mereka mungkin lebih sering bertemu.

“Sasha, gimana konsernya? Bagus gak?” Tanya Andri teman sekelasku.

Aku hanya mengangguk.

“Syukurlah. Eh, kemarin udah gue tanda tanganin tuh absen lo. untung dosen gak absen balik.”

“Makasih ya, Ndri.”

Yang kutahu, Andri mempunyai perasaan yang khusus padaku, kelakuannya yang baik dan sangat perhatian, membuat teman-teman dikelasku yakin kalau Andri menyukaiku. Aku menghargainya, tetapi aku lebih menghargai temanku Friska yang lebih dulu mengagguminya.

“Nanti lo latihan padus lagi?”

“Iyalah, kemarin kan awal. Sekarang bener-bener latihan asli.”

“Awas jangan sampe malah jatuh nilai-nilai kuliahnya, padus kan cuma buat mengisi waktu senggang aja.” Jelasnya.

“Iya, Ndri...”
***

“Sasha.” Panggil Mas Bena pelatih vokal padaku.

“Iya?”

“Kapan jadwal private vokal kamu?”

“Katanya Kak Tisha sih, aku kebagian hari senin jam 2.”

“Oh udah kebagian? Yaudah, senin besok, kamu latihan vokalnya sama saya ya.”

“Hah? Iya.. Iya Mas Bena.” Ujarku senang.

Sungguh aku sangat beruntung dapat dilatih langsung oleh pelatih vokalnya. Kebanyakan teman-temanku dilatih vokal oleh kakak-kakak senior yang lebih paham. Wah, bersyukur sekali aku mendapat kesempatan ini.

Saat pulang latihan, Farhan yang ditunjuk sebagai ketua kelompok 3, mengabsen nama-nama teman yang hadir latihan hari ini. Beberapa teman berebut minta dicatat kehadirannya oleh Farhan. Aku pun melakukannya. Kuteriakan namaku di telinganya, tetapi saat dia menuliskan huruf S, kupikir akan menuliskan namaku. Ternyata Sherly. Aku tercengang. Padahal Sherly berada jauh darinya, sedangkan aku berada tepat di sisi kirinya. Aku mundur beberapa langkah menjauhinya. Sampai akhirnya Farhan menyadari bahwa namaku lah yang belum ditulisnya. Akhirnya, namaku menjadi nama terakhir di absen tersebut. Sepele memang, tapi perasaan jatuh cinta ini membuat aku sedikit sakit hati diacuhkan oleh orang yang pernah kukagumi.
***

Sampai dirumah, Ayahku telah menungguku pulang. Dan memanggilku untuk duduk mengobrol dengannya.

“Katanya kemarin konser, kok masih latihan?” Tanya Ayahku.

“Iya Yah, kan latihan terus. Sekarang latihannya dijarakin, kalau kemarin dua minggu full karena pendidikan dasar anggota baru, kalau sekarang satu minggu tiga kali latihan.” Jelasku.

“Mending kamu udahan deh, Sha. Ayah gak mau kamu jadi lupa sama kuliah kamu. Ayah kan kuliahin kamu bukan untuk ikut kelompok paduan suara, tapi untuk pendidikan sama masa depan kamu.”

Aku begitu sedih mendengar pernyataan Ayah yang tiba-tiba membuatku meneteskan air mata. Menyanyi adalah hobbiku, sebagian dari hidupku adalah menyanyi. Lolos dari Audisi Paduan Suara adalah suatu kebanggan terbesar yang sangat berarti untukku.

“Kalau kamu memang mau nyanyi, kamu bisa berkarir sendiri, bukan berkelompok seperti itu. Ayah pernah ikut nyanyi berkelompok, lalu main Band. Dan seandainya Ayah ikut rekaman waktu itu, mungkin Ayah akan menjadi orang yang terkenal sekarang, tapi Ayah sadar, main Band bukan jaminan yang baik di masa depan. Akan ada masanya kita tergeser oleh  artis-artis baru yang lebih baik. Makanya Ayah memutuskan untuk keluar dari Band dan fokus pada sekolah. Dan Ayah mau, kamu jadi orang yang sukses, Sha.”

Aku benar-benar sedih mendengarnya. Tapi memang benar, selama aku mengikuti latihan dua minggu full kemarin, aku banyak meninggalkan kuliahku. Tugas pun menjadi terlantar. Aku sadari itu. Tapi, bagaimana dengan janjiku akan latihan dengan baik? Bagaimana dengan latihan private vocal bersama Mas Bena?

Aku mungkin tidak dapat menjalani keduanya dengan baik. Dan lagi, disatu sisi, tidak ada yang dapat kupertahankan untuk tetap berada di kelompok paduan suara. Ayah sudah tidak memberiku izin, kuliahku terlantar, dan lagi... Farhan, juga tidak bisa membuatku bertahan di UKM tersebut. Aku mundur. Aku siap meninggalkan ilmu yang baru saja ingin kuraih, berdiri diatas panggung besar dan disaksikan jutaan pasang mata seperti kata seniorku yang telah berhasil membawa pulang penghargaan Juara 1 Lomba Paduan Suara di Grand Prix-Pattaya Thailand, tahun lalu.
***

Kini aku fokus menjalani kuliahku. Hubungan pertemanan yang kurang baik dikelas karena aku sering meninggalkan kelas, kini mulai ku bina. Belum telat rasanya membuat semuanya menjadi baik. Dan belum telat rasanya membuat Andri menyukaiku kembali. Walau tak yakin, karena akhir-akhir ini Andri jarang menghubungiku, aku yakin aku bisa bersamanya.

Saat kumpul bersama teman satu genk-ku yang diberi nama “RUMPI” Yusi, menyarankan sahabat-sahabatnya untuk menutup aurat seperti dirinya. Menutup aurat adalah kewajiban yang telah diperintah Allah SWT dalam Al-Quran.

Kusadari diriku belum menutup aurat. Aku niat akan mengenakan jilbab saat aku dipersunting nanti. Saat seorang pria datang menemui orangtuaku dan membawaku dalam suatu ikatan pernikahan, maka saat itulah, aku akan menutup aurat untuk menandakan tanda bakti padanya.

Alasan ini bukan tanpa sebab. Karena aku begitu bingung dengan kehidupanku yang tak jauh dari perempuan berhijab. Saat TK, SD, SMP, SMK semua teman-temanku menutup kepalanya dengan jilbab. Apakah aku harus dikelilingi dengan wanita hijab? Apa aku tidak bisa memiliki teman yang biasa saja, tak perlu berhijab seperti kebanyakan orang?

Bukan aku membencinya, tetapi aku merasa belum pantas dan siap untuk mengenakan jilbab. Aku bersekolah di SD Negeri, dan setiap hari jumat wajib mengenakan jilbab, tapi aku malah enggan menggunakannya. Ketika SMP, orangtuaku memilihkan Madrasah Tsanawiyah agar aku lebih dalam mengenal agama islam. Karena alasan terpaksa, akhirnya aku mengenakan jilbab untuk setiap harinya. Namun dirumah pun, aku masih berkeliaran keluaran rumah tanpa mengenakan jilbab untuk menutup auratku. Menginjak SMK, aku berniat tak menggunakan jilbab, sampai akhirnya wali kelasku menyuruhku untuk melanjutkan jilbabku, karena aku adalah alumni Madrasah Tsanawiyah dan alasan kewajiban. Karena alasan terpaksa juga, aku menggunakan jilbab ke sekolah. Kini saat kuliah, tak ada bisa melarangku untuk tidak menggunakan jilbab. Tak mungkin dosenku melakukan hal yang sama seperti wali kelasku, apalagi kampusku bebas. Sekali lagi ketegasanku adalah, AKU BELUM BISA DAN BELUM SIAP!

Di genk rumpi, genk-ku berjumlah 10 orang. Semuanya mengenakan jilbab, terkecuali Aku, Diana, dan Nia serta mereka yang beragama kristen. Dalam kegiatan beribadah, aku selalu mengikuti mereka yang menjalankan sholat wajib 5 waktu. Bukan karena alasan ikut-ikutan. Tapi aku memang menyadari bahwa sholat adalah suatu kewajiban umat beragama islam untuk mendapatkan ridha Allah SWT, dan merupakan hal yang pertama kali dihisab saat aku menemui sang Khaliq.

Teman-temanku menyadari, bahwa sesungguhnya dalam hal beribadah, aku cukup paham dan mengerti. Namun, mengapa aku tidak mengenakan jilbab, kalau tahu bahwa jilbab adalah suatu perintah Allah?
***

Suatu hari, aku dikejutkan dengan salah seorang temanku yang menggunakan hijab ke kampus. Merupakan suatu hal yang indah menurutku. Karena ia lebih cantik mengenakan hijab itu. Seraya, teman sekelas pun memuji atas perubahannya hari ini.

“Subhanallah, Ninda. Kamu cantik pake jilbab itu.” Ujar Yusi.

“Iya cantik banget...” Kataku.

“Iya, ssst.. jangan digituin ah, malu..” Ujar Ninda.

“Berhijab gak perlu malu. Bagus kok.. Sasha, Diana sama Nia kapan nyusul Ninda?” Celetuk Yusi.

“InsyaAllah, Yus..” Ujarku dan Diana.
***

Dalam lamunanku saat malam hari, aku terpikir tentang hari ini. “Mengapa Ninda mau mengenakan hijab? Semakin didesak deh sama Yusi untuk berhijab. Ah, pokoknya aku nanti ajalah.” Ujarku dalam hati.

***

Keesokkan hari, saat datang ke kampus, aku terkejut melihat Riani ketua kelasku datang mengenakan hijab. Begitu cantiknya ia dengan hijab model sekarang. Yusi semakin melirik tajam ke arahku, sambil berkata:

“Kapan nyusul?”

Aku hanya tersenyum kuda menjawab pertanyaannya. Lagi-lagi, hatiku belum terketuk untuk mengatakan YA, aku mau berhijab. Astagfirullah!
***

Kehidupan kampusku berjalan normal seperti biasa, belum ada tanda-tanda temanku lagi menutup auratnya. Sampai suatu hari, tepat dua hari Riani mengenakan jilbab, aku terkejut dengan kedatang Riani tanpa jilbab.

“Riani, jilbabnya kemana? Kok gak dipake?” Tanyaku.

“Iya nih, tadi buru-buru gak sempet pake jilbab.” Jelasnya.

“Haha parah Riani, ah berarti kalo besok gue buru-buru, gak usah berhijab gitu?” Celetuk Rika.

“Sst.. Rika..”

“Iya iya, maaf ya.. lupa..” Ujar Riani malu.

Jilbab seperti mainan baginya. Aku sungguh kesal melihatnya. Mengapa berani menutup lalu membuka kembali jilbab yang dikenakannya? Walau aku belum berhijab, ada satu kekesalan dalam hatiku pada bentuk penghinaan agama islam.

“Kalau belum siap, jangan kayak gorden buka tutup, kan malu sama yang non islam, kesannya mempermainkan agama islam.” Kataku dalam hati.
***

Aku masih belum menemukan makna jilbab dibalik ini semua. Aku sangat berpegang teguh pada agamaku, aku rajin mengerjakan ibadah wajib dan sunah. Namun, hati ini belum sama sekali tergerak untuk menutup auratku.

Andri. Orang yang pernah dekat denganku, ternyata memilih mundur dan mendekati seorang perempuan teman kelasku, Jihan. Jihan begitu cantik nan anggun, dengan jilbab menghiasi kepalanya. Rupanya Andri menganggumi Jihan, saat ia tak berkomunikasi lagi denganku. Aku tak kecewa, karena mungkin aku memang belum merasakan adanya getaran cinta untuk Andri. Aku tersenyum melihat dekat dengan Jihan. Apapun yang terbaik untuknya, aku turut mendoakannya.

***

Bak mati satu tumbuh seribu. Seseorang mengejutkanku dengan tingkahnya yang tak biasa denganku. Dia teman satu kelompokku, namun beberapa hari ini adalah hal yang tak wajar karena ia mendekatiku terlalu berani. Ia secara terang-terang mendekatiku, sampai teman-temanku berpikir, dia menyukaiku. Namanya Muhammad Faras. Baru kusadari wajah dan sifatnya sangat mirip dengan sahabat SMP-ku bernama Rizwan. Terkadang aku merindukan sosok Rizwan ada padanya. Kekonyolannya, keseriusannya, dan kepandaiannya dalam memecahkan soal matematika, membuatku selalu menyamai Faras dengan Rizwan. Apa kabarnya sahabatku itu? Lama tak memberi kabar padaku setelah kami Ujian Nasional SMA.

Perasaanku semakin berkecamuk ketika semua sifat Faras mirip dengan Rizwan. Aku tak dapat berkata apapun. Masalah di waktu dulu antara aku dengan Rizwan masih membekas sampai sekarang, dan terbawa hingga Faras mendekatiku. Apa yang harus aku lakukan? Menjauhi Faras agar aku tak mengingat Rizwan? Tapi, itu terlalu kekanak-kanakan. Lalu, bagaimana dengan aku? Melihat Faras saja aku tak sanggup. Bagai pinang dibelah dua, mereka sungguh membuat aku kembali ke masa dimana aku mencintai sahabatku sendiri.
***

“Faras, seneng banget sih lo ngeledekin Sasha? Ntar jatuh cinta lho!” Celetuk Helda.

“Emang kenapa?” Tanyanya.

“PHP lo.” Sahut Helda.

Itu lah jawaban Faras saat ditanya oleh teman-temannya tentang perlakuannya padaku. Ia sering membuatku tersipu, dan kadang memukulnya karena lawakannya yang terlalu berlebihan. Tak menampik, bahwa kedekatanku selama beberapa bulan ini membuatku agak sedikit jatuh hati padanya. Hal tersebut tak elak dari perasaanku dengan Rizwan di masa lalu. Aku sungguh egois, karena yang kulihat pada sosok Faras adalah Rizwan. Aku sungguh-sungguh merindukan hadirnya sahabatku disini.

Tidak ada maksud untuk mencintai sahabatku sendiri, aku sangat memegang komitmen yang kami buat saat memutuskan untuk bersahabat. Tapi kata “CINTA” yang Rizwan ucapkan padaku sebelum aku jatuh hati padanya membuat persahabatan kami mulai meretak. Dan akhirnya, aku pun ikut terhanyut dalam perasaan yang terlarang itu.

***
         “Faras itu sukanya sama Clara, bukan sama Sasha tau!” Ujar temanku saat aku masuk ke kelas. Mereka panik melihat kedatanganku, dan berusaha mengalihkan obrolan ke topik yang lain.

Aku menghampiri mereka.

“Emang kenapa kalau Faras suka sama Clara? Clara cantik kok..”

“Bukannya lo suka sama Faras?” Ujar Gina.

“Nggak. Kata siapa?”

“Oh.. Syukurlah. Karena orang yang baru kita omongin tuh baru dateng..” Tiara menunjuk Faras dan Clara yang baru memasuki pintu kelas.

“CIEEEEEEE...” Ucap teman-teman melihat kedatangan mereka. Tak ingin dibilang cemburu, aku turut mengatakan hal itu pada mereka.

Sesungguhnya CIE adalah suatu bentuk rasa cemburu yang tersembunyi. Ciyus Ini Envy! Yaaah, begitulah kira-kira.

Aku turut tersenyum melihat Clara begitu bahagia. Terlebih Clara adalah teman baikku.

***

Aku mulai membandingkan kelebihan diriku dengan orang-orang yang pernah merebut laki-laki yang aku kagumi. Apa kurangnya aku? Mengapa banyak orang begitu bahagia akan cinta yang baru ia dapatkan, sementara aku sangat tersiksa atas hubungan mereka? Mengapa wanita lain mudah sekali mendapatkan seorang kekasih yang dia inginkan dengan mudah? Sedangkan aku, mengapa susah untuk dekat dengan seseorang yang aku kagumi walau hanya sekedar berbalas? Farhan dengan Sherly, Andri dengan Jihan dan Faras dengan Clara, apa maksudnya?

Aku menyadari, dari ke semua perempuan yang kusebutkan tadi, semuanya adalah wanita berhijab. Perempuan yang menutup auratnya dari atas sampai kebawah. Disamping mereka cantik, mereka mempunyai nilai plus dalam akidahnya. Berbeda denganku yang masih enggan mengenakan jilbab untuk menutup aurat.
***

Sebuah acara gosip pagi hari mampu membuatku berdecak kagum menyaksikan acara tersebut. Dimana, seorang wanita muslimah akhirnya dipersunting oleh laki-laki soleh yang rupawan. Dia, Oki Setiana Dewi. Wanita yang menjadi contoh paling baik untuk seluruh wanita Indonesia. Tutur katanya yang santun, cantik dan solehah ini juga mampu membuatku kagum padanya. Oki Setyana Dewi melangsungkan pernikahannya dengan cara yang berbeda dengan pernikahan orang lain pada umumnya. Antara mempelai pria dan wanita duduk secara terpisah sebelum mereka sah menjadi sepasang suami istri. Tahap pengenalan mereka pun bukan dengan pacaran, melainkan Ta’aruf. Sungguh mereka adalah pasangan yang cocok dan dapat menjadi contoh yang baik dalam zaman yang sudah menyimpang dari ajaran Allah yang sebenarnya.

“Untuk pertama kalinya, saya memegang tangan suami saya selama mengenal dia. Untuk saat ini, kami mau pacaran dulu.”Ujar Oki.

Aku berdecak kagum mendengarnya sambil ikut tersenyum membayangkan betapa indahnya pacaran setelah menikah seperti Mbak Oki Setyana Dewi. Aku sangat menanti datangnya hari itu dalam hidupku.

Kabar bahagia ini, akhirnya aku sampaikan kepada sahabatku di SMA. Betapa aku sangat menganggumi keteguhannya menjalin sebuah ikatan, tanpa status “Pacar” tetapi menjalin ikatan Ta’aruf sampai mereka halal menjadi sepasang suami istri.

“Sha, cewek baik itu pasti jodohnya baik. Udah takdirnya dari sana itu..” Ujar Rizka.

Kata-kata Rizka begitu membekas sampai hari ini. Mungkin benar apa yang ia ucapkan. Karena Allah Maha Adil. Apa yang ia tanam, maka ia akan mendapatkan hasilnya dari usaha dan kerja kerasnya. Aku pun akhirnya mendapatkan suatu petunjuk. Laki-laki manapun, pasti menginginkan calon pedamping hidupnya yang sholehah dan penghuni surga.

Aku segera berkaca diri. Sudah layakkah aku menjadi seorang wanita sholehah yang menjadi bidadari penghuni surga? Sudah pantaskah aku memberikan yang terbaik untuk calon suamiku kelak? Bagaimana jika aku mendapatkan suami yang tidak sholeh akibat aku juga yang kurang menaati perintah Allah? Ya Allah, berikanlah aku laki-laki yang sholeh, laki laki yang mampu membawaku ke surga-Mu dengan izin dan ridho-Mu, laki-laki yang akan memberikanku keturunan yang sholeh dan sholehah. Kabulkanlah doaku, ya Allah..

***

Rasa sakit karena ketidakberuntungnya aku dalam mendapatkan seorang kekasih sudah sedikit tersingkir dari benakku. Tak perlu mencari pacar yang sholeh. Kelak laki-laki sholeh itu akan meminangku di waktu yang tepat. Dalam benakku kini, bukan Allah tidak menyanyangiku karena tidak memberikan aku seorang pacar, justru karena Allah menyanyangiku sehingga belum mendekatiku pada seorang laki-laki, agar terhindar dari fitnah dan zinah yang dapat terjadi karena belum adanya ikatan yang sah.

***

“Kakak, kita foto-foto, yuk..” Ujar Helen tetanggaku yang berusia 4 tahun.

Semenjak kepindahannya didekat rumahku, ia sangat akrab denganku. Aku yang menyanyangi anak kecil pun, ikut terhipnotis dengan tingkahnya yang membuat orang gemas bila didekatnya.

Anak cantik, lucu, pandai membuat orang tersenyum ini sering kukaitkan dengan tokoh kartun Masha and The Bear di salah satu stasiun televisi. Dengan poni rambut seperti Masha, aku mencoba menjadikan Helen seperti Masha, lengkap dengan kerudung pink milikku. Aku tertawa geli melihat Helen yang sangat cantik dan lucu. Ku abadikan momen tersebut di ponsel milikku. Salah satu celotehannya membuatku merinding dan terkejut.

“Kakak, kok kakak gak pake kerudung sih? Kan kakak cantik kalo lagi pake kerudung.” Ujar Helen yang membuatku sempat terbelalak.

“Ehm.. Emang kamu udah liat aku pake kerudung?”

“Udah, waktu lagi sholat pakai mukena.”

Deg. Jantungku serasa mau copot mendengarnya. Ternyata ia sering memperhatikanku saat aku sedang melakukan ibadah sholat.

“Kakak pake ini dong, coba.” Ia melepaskan kerudungnya, dan memakaikanku kerudung pink tersebut.

“Tuh kan cantik..”

Aku mengaca. Seperti ada bayangan pada kaca tersebut, memilih menutup aurat sebagai suatu kewajiban dan syarat masuk surga? Atau tetap egois dan acuh terhadap kain suci itu?

Aku benar-benar tersentuh atas saran malaikat kecil ini. Ia mampu membuatku tampil cantik dan ikhlas saat mengenakan jilbab ini.

***

Malam hari. Aku tak dapat menutup mataku dengan rapat. Aku tak bisa tertidur seperti biasanya. Seperti ada yang mengganjal yang membuatku susah menutup mata. Peristiwa sore tadi sepertinya yang menjadi penyebab tak bisanya aku menutup mata. Terlintas dalam pikiranku tentang akhir-akhir ini.

Sebenarnya apa yang aku cari lagi di dunia ini? Bukankah Allah menghidupkan para Mahluknya untuk beribadah kepada Allah dan menjalankan perintahnya? Mengapa susah sekali mengatakan “YA aku mau berhijab, aku mau menutup auratku. Aku mau melaksanakan perintah yang Allah suruh pada seluruh umatnya.” Mengapa susah sekali? Apalagi yang ingin aku tunjukkan pada dunia dengan aurat yang masih terbuka? Bukankah Allah memerintahkan wanita untuk berjilbab dengan tujuan untuk melindungi wanita dari mata laki-laki yang tidak sopan? Dari tangan-tangan jahil yang tidak beradab? Mengapa seakan kita justru menonjolkan hal yang tidak patut diperlihatkan pada orang yang bukan muhrimnya?

Seluruh pertanyaan itu memutar-mutar dalam pikiranku. Begitu banyak mudharatnya, bila aku tidak menutup aurat. Lalu, ketika aku sudah mantap menutup auratku, bagaimana dengan pekerjaanku nanti? Bukankah pekerjaan di kantor, rata-rata mengenakan rok dan blazer terlihat cantik? Bagaimana dengan pandangan orang-orang yang melihat “aneh” atas perubahanku? Dan bukankah ketika sudah siap menutup aurat saat keluar rumah, berarti juga siap saat ke warung terdekat juga harus menutup aurat, bukankah itu berlebihan? Terlebih jarak warung hanya beberapa langkah dari rumahku? Dan bagaimana baju-baju lamaku yang rata-rata adalah pendek? Dan ternyata, sedikit sekali baju panjang yang kumiliki. Bagaimana dengan salinan pakaianku sehari-hari?

Pertanyaan sebanyak itu ternyata justru membuatku terlelap saat jam menunjukkan pukul 03.00 pagi.

***

Pagi hari. Aku segera mencuci muka dan mencari jilbab pink yang kemarin dikenakan oleh si Masha. Adikku begitu terheran-heran melihatku mengenakan kerudung dengan terburu-buru.

“Mbak. Ngapain pake kerudung?” Tanya Fino.

“Pantes gak sih, Fin?” Tanyaku balik.

“Mbak, yang namanya cewek kalo pake kerudung yaa cantik lah. Lagian mbak kenapa sih gak pake kerudung? Sholat udah mulai rajin, puasa sunnah udah biasa. Nunggu apa lagi sih, Mbak?”

Kerudung pink itu sudah melekat cantik di kepalaku. Terlihat anggun saat aku mengenakannya.

“Tuh kan cantik. Udah mbak, tutup kepalanya. Jangan dipamerin mulu ke orang. Dosa kan, mbak. Gak inget foto dari Kak Yusi apa?”

Aku mulai teringat akan gambar yang Yusi kirim kepadaku minggu lalu. Isi gambar tersebut adalah seuntai pesan yang sangat membuatku bergidik ngeri. Seperti ini:

“Satu langkah, anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat, maka satu langkah ayahnya hampir ke neraka.”

“Sehelai rambut wanita terlihat oleh lelaki yang bukan muhrimnya dengan sengaja, maka 70.000 tahun balasan di neraka.”

Dan masih banyak lagi pesan bergambar yang Yusi kirimkan seperti itu. Aku semakin yakin untuk benar-benar menutup auratku tanpa adanya “paksaan”.

“Cantik kan, Mbak?” Tanya Fino menegaskan.

Tanpa terasa air mataku jatuh. Beginikah rasanya ikhlas menjalankan perintah Allah? Beginikah rasanya sempurna dengan penutup kepala ini? Ya Allah.. Terima kasih telah kau tunjukkan padaku hidayah yang indah ini. Terima kasih Kau tunjukkan jalan menuju surga-Mu. Aku berjanji dalam hati, aku akan mengenakan jilbab ini sampai aku dipanggil menghadap Sang Pencipta.

***

Aku datang ke kampus dengan rasa gugup. Gugup karena akan dilihat aneh oleh teman-teman dan gugup karena ini pertama kalinya aku mengenakan jilbab dengan hati yang ikhlas.

“Sashaa.. Subhanallah.. Cantik banget...”

“Sasha! Lu pake kerudung? Astaga, kiamat.....”

“Subhanallah, Sasha.. Cantik banget kamu...”

Dan masih banyak lagi pujian yang aku dapatkan dari teman-teman yang merasa takjub melihat perubahanku hari ini. Semoga ini bukan hanya sekedar “ikut-ikut” berjilbab. Tetapi memang Allah sudah memanggilku untuk segera berjilbab dan menutup aurat.

“Kalo Sasha udah jilbab-an, tinggal Yusi nih nyinggung-nyinggung gue..” Ujar Nia.

“Nia, kapan nyusul?” Tanya Yusi.

“Tuh, kan...”

***

“Sha, terinspirasi dari siapa pake jilbab?” Tanya Ryan saat tiba-tiba ia duduk disampingku.

“Hah? Ehm.. Ya gak tau. Namanya juga hidayah.” Jawabku.

“Kenapa gak dari dulu sih pake jilbab? Kan keburu ilang feelingnya.”

Aku seketika terkejut mendengar pernyataannya, apa maksud perkataannya? Memangnya, dia pernah menyukaiku?

“Maksudnya?” Tanyaku.

“Nggak.”

“Oh..”

“Oh iya, kalau lo butuh nasihat, pesan, lo bisa tanya sama ketiga kiyai di kelas ini.”

“Hah? Kiyai, siapa?”

“Kyai yang pertama Riza, yang kedua gue, yang ketiga Roni. Si Riza, biar nyeleneh, tapi dia anak pesantren dulunya. Jadi kalo lo punya pertanyaan agama, bisa tanya ke kita-kita.”

“Oh gitu. Oke..”

Aku mulai terpancing kata-kata Ryan. Bagiku, sosok Ryan adalah sosok yang jarang berbincang dengan orang lain, terutama denganku. Saat berbincang denganku, matanya yang coklat menatapku seakan menerkamku bulat-bulat. Wajahnya yang tampan baru kali ini kusadari saat ia berbincang padaku saat ini. Secara agama, ia mampu dikatakan menjadi pemimpin yang baik.

***

“Sha, kapan pakai rok kayak Yusi supaya jadi wanita muslimah yang benar? Kan manis kalau rok..” Seru Ryan saat aku menuju kelas.

“Hah? Gue belum punya rok, nanti deh..”

“Pake dong.. biar manis.”

Aku buru-buru meninggalkan kerumunan Ryan dan teman-temannya. Teman-temanku menyadari bahwa sepertinya, Ryan punya kekaguman padaku.

***

“Dari dulu kali, Sha. Dia suka sama lo, suka doang tapi.. gak ada niat buat pacaran.” Jelas Faras yang juga sahabat Ryan.

Aku sempat terkejut mendengar pernyataan Faras. Sejak dulu? Jangan-jangan, sejak Faras mulai mendekatiku. Karena semenjak Faras mendekatiku, dan teman-teman dekatku, ia bertanya banyak hal tentangku, bersikap berbeda dari sebelumnya. Lalu, tiba-tiba Faras menyatakan, bahwa ia sesungguhnya menyukai Clara secara terang-terangan.

Dan kini kusadari, mungkin Faras membantu Ryan mencari informasi tentangku melalui teman-temanku. Sehingga timbul kesan Faras menyukaiku.

Yusi mulai mengingatkanku bahwa wanita yang sholehah akan tetap jomblo sampai dia halal setelah akad nikah. Aku mengerti hal itu, walaupun terkadang aku iri pada teman-teman yang sudah menggandeng pacar kemana-mana, sedangkan aku? Hanya bisa terduduk diam menunggu kapan waktunya Allah memberikan seorang kekasih seperti wanita yang lain. Aku memang belum mempunyai perasaan khusus pada Ryan, karena ini terlalu mendadak. Aku tak pernah menyangka bahwa ada juga orang yang menaruh hati padaku, bahkan teman-temanku tahu hal itu. Tapi ini juga sungguh menyakitkan, tatkala laki-laki impian itu datang, sahabatku memperingatkan, haram hukumnya laki-laki berpacaran dengan wanita yang belum muhrim. Karena hal itu dapat menimbulkan fitnah, sampai zina. Nauzubillah’minzalik.

Salah satu status akun media sosial milik Yusi pun menyadarkanku.

“Mau pacaran sama wanita yang sholehah? Sayangnya, wanita sholehah gak pacaran.”

***

Ryan tetap berusaha mendekatiku, mengatakan hal yang manis padaku. Sampailah pada suatu pernyataan yang mencengangkan namun membuatku kagum padanya.

            “Sha, kalo ada laki-laki yang deket sama lo. Lo lihat apa tujuannya. Dia mau mengajak lo menghindari neraka, atau malah mencebloskan lo ke neraka? Karena banyak tipe laki-laki macam ini. Bilangnya sih mau pacaran sama wanita sholehah, tapi.. wanita sholehah kan gak pacaran. Begitupun laki-laki. Laki-laki yang sholeh, gak akan ajak wanitanya untuk pacaran, tapi kalau sudah siap, laki-laki sholeh itu akan mengajaknya untuk menghalalkan hubungannya dengan si wanita sholehah.” Jelas Ryan.

Aku terkesima dengan paparannya. Ia begitu mendalami agama islam. Pandangan islamnya sangat baik dan bijak. Ia seperti calon pemimpin keluarga yang aku dambakan. Terbukalah hatiku untuk tetap menjomblo sampai seorang laki-laki mengucapkan ijab qabul dihadapan orangtuaku. Biarlah hubunganku dengan Ryan tetap seperti ini. Tetap menjadi teman yang baik, tetap menjadi seorang teman yang mampu menghindariku dari siksa api neraka, dan menghindariku dari perbuatan zina.

Banyak sekali hidayah yang aku dapatkan setelah berhijab. Aku merasakan sebuah kebaikan dan pengetahuan islam perlahan masuk kedalam kehidupanku, memasuki lubang-lubang yang pernah terkikis karena kedengkian hati menjauhi perintah Allah. Begitu banyak hal-hal baik berdatangan menghampiri kehidupanku. 

Sebab Allah tidak akan merubah suatu takdir kita, kecuali kita berusaha dan berdoa. Saat aku menutup hati untuk tidak berhijab sebelum siap, Allah datangkan hidayah-hidayah yang tak pernah ku sangka. Dan semakin Allah memberikanku petunjuk, semakin pula kucari dan aku dalami maknanya, hidayah dan nikmat yang Allah berikan padaku sungguh terasa indah. Tak ada yang aku lakukan selain melakukan hal yang telah diperintahkan Allah, tidak akan aku kufuri lagi nikmat yang Allah berikan kepadaku dalam setiap hembusan nafas dan detak jantungku. Kini AKU BISA membiasakan diri menjalankan perintah Allah dengan menggunakan jilbab yang menutup mahkotaku, karena aku tidak ingin terbakar panasnya api neraka diakhirat nanti.

Dan untuk pertama kalinya, aku menunggu datangnya bulan Suci Ramadhan yang sebentar lagi akan menyapa seluruh umat islam dimuka bumi.  Untuk pertama kalinya aku ingin mengkhatamkan Al-qu’ran satu bulan penuh di bulan suci nanti. Untuk pertama kalinya pula, aku merasakan kedamaian dalam hidup ketika aku memutuskan untuk lebih jauh mengenal Allah dalam bertasbih, bertakbir dan bertahmid dihadapannya. Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosaku, ampunilah segala keburukan sikapku selama ini. Tunjukkanlah aku jalan yang Engkau ridhoi.. Tunjukkan jalan menuju Surga-Mu. Aamiin.

Kisahku ini adalah sebagian kisah kecil dalam pencarianku mencari hidayah. Tak akan ada habisnya aku mencari segala hal yang belum aku ketahui. Semoga kisahku ini menjadi sebuah hidayah baru bagi pembaca.

Hidayah tak akan datang apabila kita tidak mencari dan berusaha. Dan hidayah itu akan datang ketika hati sejalan dengan niat dan usaha dalam mencari jalan menuju surga.

Rabu, 25 Juni 2014

PILIH CAPRES? PILIH YANG GAK OBRAL JANJI!


Akhir-akhir ini, tv ramai berbondong-bondong dengan berita Pemilihan Capres-Cawapres 2014-2019. Berita capres memang sedang hangat diperbincangkan, ini membuat masyakarat Indonesia harus berpikir beribu kali sebelum menentukan pilihan. Bukan cuma orang-orang yang bingung dalam menentukan pilihan, saya pun dibuat bingung karenanya.

            Calon presiden yang terdaftar di KPU ada dua pasang. Nomor urut 1 ada Prabowo-Hatta dan nomor urut 2 ada Jokowi-JK. Masing-masing calon mempunyai kredibilitas yang tinggi dibidangnya masing-masing.

Blusukan Jokowi dikenal masyarakat sebagai bentuk kepeduliannya terhadap rakyat. Tidak main-main, rakyat Jakarta langsung “jatuh cinta” pada Mantan Walikota Solo ini. Kinerja kerja Jokowi sebagai Pemimpin Jakarta sungguh dapat diacungkan kedua jempol. Terbukti, pada saat ide-idenya dalam mengusung Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta Sehat terealisasi, dan dapat diterima oleh rakyat Jakarta, terutama rakyat menengah ke bawah, dan mendapat respon yang baik bagi seluruh rakyat yang merasakannya. Begitupun dengan rencananya yang akan membuat Tol Laut dan Kereta Monorel, saya katakan, inilah calon pemimpin yang ditunggu-tunggu masyarakat, pemimpin yang mampu mengubah secuil harapan rakyat, dan berdampak bagi kehidupan masyarakat diseluruh Indonesia. Walaupun saya bukan Warga Negara Jakarta, saya akui inilah gebrakan perubahan awal yang baik
.
Namun, kekaguman saya pada Pak Jokowi perlahan memudar ketika pemberitaan Pak Jokowi mendapat mandat dari Ibu Megawati untuk menjadi Capres ramai mondar-mandir di seluruh stasiun televisi. Kekaguman yang pernah hadir dihati saya sekejap sirna, saat Pak Jokowi mengatakan siap untuk menjadi Calon Presiden dari Partai PDI-P bersanding dengan Calon Presiden lain ketika masa jabatannya belum berakhir menjadi seorang Gubernur. Mengapa seorang yang saya kagumi tega mengkhianati janjinya untuk membangun Jakarta selama 5 tahun demi menjadi seorang Pemimpin Negara? Mengapa ada kesan “Loncat” dalam politik?

Kebingungan ini mendorong saya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setelah saya browsing, saya mendapatkan informasi bahwa Jokowi juga pernah “akselerasi” sewaktu menjabat Walikota Solo di periode tahun keduanya. Sukses dengan 5 tahun menata Kota Solo, pada pemilihan Walikota selanjutnya Jokowi dipercaya kembali untuk menata Kota Solo, namun apa yang terjadi? Ditahun keduanya ia menjabat Walikota Solo, ia ikut serta dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Dan kini, ketika ia berhasil menduduki kursi Gubernur dan berjanji dibawah nama Tuhan untuk memimpin Jakarta selama 5 tahun, ia mengingkari janjinya sendiri. Janji yang disaksikan oleh seluruh mata yang melihat, oleh seluruh telinga yang mendengar, dan oleh seluruh hati yang berharap untuk majunya Jakarta yang lebih baik, kini sirna. Kepercayaan rakyat Jakarta terhadap Jokowi perlahan menghilang seiring majunya Sang Gubernur untuk menempati posisi tertinggi di Indonesia.

“Demi Allah saya bersumpah, saya berjanji sebagai Gubernur daerah khusus ibukota Jakarta dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya memegang teguh undang-undang dasar negara republik Indonesia tahun 1945 dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta BERBAKTI PADA MASYARAKAT  nusa dan bangsa”. Ungkap Jokowi saat dilantik menjadi seorang Gubernur.

            Masih ingatkah Pak Jokowi tentang janji tersebut? Janji selama 5 tahun menjadi seorang Gubernur? Pak Jokowi dengan sengaja melanggar sumpah dihadapan mata media dan mata rakyat, dengan berdusta dan mengikari janjinya sumpah jabatannnya atas nama Allah dan Al Quran. Tahukah beliau bahwa ia dapat disebut orang yang “Munafik?”.

Nabi Muhammad SAW: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu bila berbicara dusta, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat.” (HR. Muslim)

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”. ( QS. An Nahl : 91 )

           “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan menyucikan mereka. Bagi mereka adzab yang pedih”.( QS Ali imran :77)

            Masyarakat di Indonesia, mayoritas memeluk agama Islam. Pedoman atau Kitab Suci Umat Islam adalah Al-Quran dan Hadits. Di dalam Al-qur’an semua kehidupan telah diatur sebaik-baiknya. Wajar kalau saya menggunakan firman Allah untuk mengingatkan kembali masyarakat dalam menentukan pilihan.

            Saya bukan seorang anggota Partai pendukung Prabowo-Hatta, saya tidak mengkampanye-kan Capres-Cawapres no urut 1, saya bukan seorang yang membenci Jokowi, saya hanya seorang mahasiswi yang pikirannya mulai terbuka tentang politik akhir-akhir ini. Terlebih saya adalah seorang pemilih pemula yang wajib mencari tahu “track record” masing-masing kedua Capres.

            Pemberitaan di media tentang kampanye hitam yang menyerang masing-masing kedua kubu mengakibatkan banyaknya swing voters yang salah dalam menentukan pilihan. Maka dari itu, mari kita ulas pernyataan-pernyataan yang heboh di media dibawah ini:

1.      PRABOWO
Melihat komentar pedas web ini, kok rasanya semua bisa diklarifikasi ya?  http://www.kaskus.co.id/thread/52e94ef10d8b46f04c8b4580/50-catatan-buruk-prabowo-subianto

·    Bila Pak Prabowo diberitakan bahwa ia adalah seorang pelanggar HAM, mengapa Ibu Megawati pernah mengajaknya untuk menjadi Calon Wakil Presiden periode 2009-2014?
·  Kalau Prabowo dipecat secara tidak terhormat atas kasus kerusuhan 98, mengapa ia masih mendapatkan uang pensiun?
·    Bila Prabowo melecehkan peran gerakan mahasiwa 98 dan lokomotif gerakan reformasi amin rais cs dalam menumbangkan rezim korupsi Soeharto, mengapa sekarang Amin Rais berkoalisi dengan Prabowo, dan menjadikan Hatta Radjasa sebagai Cawapresnya?
·    Mantan aktivis ITB Syahganda Nainggolan juga mengecam keras Prabowo. Dia juga mengatakan duet Prabowo-Hatta tdk akan terwujud gara-gara ini. Tapi buktinya menurut survey Institut Survey Indonesia (ISI), Prabowo-Hatta  51,18 persen. Sementara Jokowi mendapat 48,82 persen?

2.      JOKOWI
·     Menggadang-gadangkan akan membeli kembali INDOSAT, visi Jokowi dinilai Aneh oleh Pengamat Militer! Indonesia tak butuh Drone, Indonesia itu luas butuh satelit, kenapa dulu Mega jual sembarangan? http://www.suaranews.com/2014/06/visi-jokowi-dinilai-aneh-oleh-pengamat.html
·     Jokowi peduli Palestina, kenyataannya, ia keduluan Prabowo yang sudah memberikan sumbangan sebelum Jokowi berkoar. http://www.suaranews.com/2014/06/ini-semakin-mempermalukan-jokowi.html

Terlebih dari semua pemberitaan diatas, saya sebenarnya masa bodoh. Saya tidak peduli dengan semua pemberitaan yang ada. Pemberitaan diatas hanya segelintir bonus karena pilihan saya mengajak kaum Islam untuk tidak salah pilih. Umat Islam pasti tahu dengan hukumnya Janji? Bedanya Prabowo dengan Jokowi dalam masalah Janji adalah, Prabowo bebas menjanjikan apapun kepada masyarakat Indonesia karena beliau memang belum pernah merealisasikan satu janji pun kepada masyarakat Indonesia. Ia bebas berjanji dihadapan rakyat karena tidak punya hutang janji di masa lalu. Namun berbeda dengan Pak Jokowi, terkesan aneh bila ia berjanji didepan masyarakat, janji kemarin saja belum ia laksanakan dengan baik, masa mau berjanji lagi. Masyarakat udah “mual” dengan janjinya pemimpin. Mereka butuh kepastian. Walau perlahan, asal mereka mendapatkan apa yang mereka butuhkan, mereka akan senang dan sejahtera. Tak peduli dengan gosip politik yang berkeliaran di media massa. Masyarakat sudah pintar dalam memilih Calon Presiden!

Saya mendukung Prabowo-Hatta karena beliau memang layak menjadi Pemimpin di Negara ini untuk periode 2014-2019. Capres hanya dua, kalau yang satu banyak obral janjinya, dan dari pada dosa menjadi pengikut pemimpin yang salah, mending pilih yang satu. Walau banyak pemberitaan yang menjelek-jelekan dirinya, suatu saat kebaikan akan terungkap. Orang yang dianggap baik tidak sepenuhnya baik, pasti ada bobroknya. Orang yang dianggap buruk, belum tentu buruk dihadapan Allah! Allah tidak tidur. Lagi, apa pantas, ketika Jokowi menjadi Presiden, Ahok bergeser kepemimpinan menjadi Gubernur? Mayoritas masyarakat kita adalah Islam. Orang Islam harus dipimpin dengan orang Islam.

Bang Rhoma Irama yang kita kenal sebagai artis Dangdut menyatakan, bahwa intinya umat Islam tidak boleh dipimpin oleh orang kafir karena akan diazab Allah SWT. Oleh sebab itu memilih pemimpin adalah ibadah (seperti halnya shalat, dan puasa). Beliau berkata begitu berdasarkan ayat Al-quran An-Nisa 144. Allah SWT berkata:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)”? (QS. 4:144)

Sebenarnya kedua Capres ini layak menjadi Pemimpin Negara dan membuat Negara Indonesia mampu disegani oleh masyarakatnya. Tapi, biarkanlah Pak Prabowo menjadi seorang Presiden periode 2014-2019. Bantulah Pak Prabowo agar beliau melaksanakan janji-janjinya. Karena dengan kita membantu Pak Prabowo menjadi seorang Presiden, maka kita juga akan membantu Pak Jokowi untuk melanjutkan kepemimpinannya di Jakarta, membenahi Jakarta seperti yang ia janjikan tahun 2012. Karena dengan kita membantu Pak Jokowi menjadi Gubernur kembali, kita dapat menghindarinya dari Dosa karena tidak menepati janjinya, kita dapat menghindari pemimpin hebat ini dari siksanya Allah di Akhirat. Dengan kita membantu Pak Jokowi menjadi Gubernur kembali, Pak Ahok juga pasti akan terbantu oleh Pak Jokowi untuk merealisasikan janji mereka membenahi Jakarta. Dan pada akhirnya ketika Jokowi-Ahok telah terbantu, masyarakat Jakarta ikut terbantu ekonomi, kesehatan dan kesejahteraannya. Bantu-membantu itu sangat luar biasa bukan? Dari kita membantu Prabowo menjadi Presiden, kita juga membantu Jokowi untuk kembali menata Jakarta, pekerjaan Ahok terbantu oleh Jokowi, dan rakyat Jakarta juga terbantu dengan kembalinya Sang Gubernur ke tengah-tengah mereka. Tidak ada yang melarang Jokowi untuk menjadi Presiden. Namun, selesaikanlah dulu tugasnya yang belum selesai. Tepatilah janjinya seperti yang kau ucapkan sebelum menjadi Gubernur. Ketika DKI Jakarta sukses seperti yang Jokowi-Ahok targetkan, dan keberhasilan mereka diakui seluruh masyarakat, maka dengan sendirinya, apabila Jokowi mencalonkan diri sebagai Calon Presiden di Periode yang akan datang, masyarakat secara ikhlas dan sukarela akan memenangkan Gubernur Hebat ini untuk membenahi Indonesia.

Saya meluruskan bahwa “saya bukan sok tau atau sok tua”. Ini adalah aspirasi saya. Ini adalah hasil pencarian saya selama ini mengikuti jejak perkembangan Capres-Cawapres. Semoga masyarakat terbuka hati, pikiran dan nuraninya, bahwa Negara ini butuh perubahan. Siapa yang akan merubah? Pemerintah yang bersih, dan masyarakatnya yang mendukung.

Ingat! Tuhan nomor 1. Presiden itu nomor 2. Tidak ada yang melarang membanggakan Presiden yang akan memimpin kita nanti, tapi Allah Sang Pencipta Alam Semesta-lah yang pertama kali harus kita Agungkan. Karena ketika Allah sudah memanggil, tak ada yang bisa menolak atau menundanya. Semua akan kembali kepada Sang Pencipta. Selamat Datang INDONESIA BARU! Indonesia yang berbudaya dan beragama.

Sumber:




Selasa, 24 Juni 2014

KEBIJAKAN PEMERINTAH ERA KEPEMIMPINAN SUSILO BAMBANG YUDHIONO (2004-2014)


Setelah Kemerdekaan Negara Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, masyarakat sepakat bahwa tanggal 18 Agustus 1945, bangsa Indonesia menerima Pancasila sebagai dasar negara sebagai perwujudan falsafah hidup bangsa dan ideologi nasional. Hal itu adalah bentuk dari kesetiaan terhadap ideologi Pancasila dituntut dalam bentuk sikap, tingkah laku dan perbuatan yang nyata dan terukur dalam paradigma pembangunan dan perekonomian Indonesia.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, paradigma diartikan seperangkat unsur bahasa yang sebagian bersifat konstan (tetap) dan yang sebagian berubah-ubah. Paradigma, juga dapat diartikan suatu gugusan sistem pemikiran Sedangkan pembangunan menunjukkan adanya pertumbuhan, perluasan ekspansi yang bertalian dengan keadaan yang harus digali dan yang harus dibangun agar dicapai kemajuan di masa yang akan datang. Pembangunan tidak hanya bersifat kuantitatif tetapi juga kualitatif (manusia seutuhnya).
Ditinjau dari masalah paradigma pembangunan dan perekonomian di Indonesia, negara kita sendiri mempunyai kondisi perekonomian Indonesia yang dapat diukur dengan menggunakan beberapa indikator, misalnya pendapatan nasional dan Produk Domestik Bruto (PDB). Pendapatan nasional dan PDB yang tinggi menandakan kondisi perekonomian suatu negara sedang bergairah yang memungkinkan pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia. Lalu bagaimana dengan kebijakan pemerintah era kepemimpinan SBY? Apa saja kebijakan-kebijakan pemerintahan pasca dilantiknya Presiden SBY bersama JK tahun 2004-2009 dan 2009-2014 bersama Boediono?
KEBIJAKAN PEMERINTAH
Dilansir dari http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2012/04/perekonomian-indonesia-di-era-reformasi/ bulan april 2012, pada masa kepemimpinannya tahun 2004-2009, SBY banyak menuai kebijakan seperti adanya kebijakan kontroversial yaitu mengurangi subsidi BBM, atau dengan kata lain menaikkan harga BBM. Kebijakan ini dilatar belakangi oleh naiknya harga minyak dunia. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan, serta bidang-bidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.¹
Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan kontroversial kedua, yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak, dan pembagiannya menimbulkan berbagai masalah sosial. Kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan perkapita adalah mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki iklim investasi. Salah satunya adalah diadakannya Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006 lalu, yang mempertemukan para investor dengan kepala-kepala daerah.

Menurut Keynes, investasi merupakan faktor utama untuk menentukan kesempatan kerja. Mungkin ini mendasari kebijakan pemerintah yang selalu ditujukan untuk memberi kemudahan bagi investor, terutama investor asing, yang salah satunya adalah revisi undang-undang ketenagakerjaan. Jika semakin banyak investasi asing di Indonesia, diharapkan jumlah kesempatan kerja juga akan bertambah.
Selain itu, pada periode ini pemerintah melaksanakan beberapa program baru yang dimaksudkan untuk membantu ekonomi masyarakat kecil diantaranya PNPM Mandiri dan Jamkesmas. Pada prakteknya, program-program ini berjalan sesuai dengan yang ditargetkan meskipun masih banyak kekurangan disana-sini.
Pada pertengahan bulan Oktober 2006 , Indonesia melunasi seluruh sisa utang pada IMF sebesar 3,2 miliar dolar AS. Dengan ini, maka diharapkan Indonesia tak lagi mengikuti agenda-agenda IMF dalam menentukan kebijakan dalam negeri. Namun wacana untuk berhutang lagi pada luar negri kembali mencuat, setelah keluarnya laporan bahwa kesenjangan ekonomi antara penduduk kaya dan miskin menajam, dan jumlah penduduk miskin meningkat dari 35,10 jiwa di bulan Februari 2005 menjadi 39,05 juta jiwa pada bulan Maret 2006.
Hal ini disebabkan karena beberapa hal, antara lain karena pengucuran kredit perbankan ke sector riil masih sangat kurang (perbankan lebih suka menyimpan dana di SBI), sehingga kinerja sector riil kurang dan berimbas pada turunnya investasi. Selain itu, birokrasi pemerintahan terlalu kental, sehingga menyebabkan kecilnya realisasi belanja Negara dan daya serap, karena inefisiensi pengelolaan anggaran. Jadi, di satu sisi pemerintah berupaya mengundang investor dari luar negri, tapi di lain pihak, kondisi dalam negeri masih kurang kondusif.
KEMAMPUAN SISTEM POLITIK
Kapabilitas sistem politik dapat diartikan sebagai kemampuan sistem politik yang dapat digunakan untuk mematangkan pembangunan politik disuatu negara. Menurut Almond keamampuan sistem politik terhadap kapabilitas sistem politik pada umunya terdiri atas kemampuan regulatif, ekstraktif, distributif, simbolis, dan responsif. Dalam era reformasi hingga sekarang hingga sekarang, penulis mencoba memotret bagaimana kemampuan sistem politik era pemerintahan SBY  hingga sampai sekarang dengan menggunakan teori Almond.²
1.      Kemampuan ekstraktif: Adalah kemampuan mengelola sumber-sumber material dan manusia dari lingkungan dlm maupun luar.  Eksploitasi terhadap hasil sumber daya alam indonesia sebenarnya telah lama di lakukan oleh negara luar. Yaitu perjanjian antara pemerintah Indonesia dengan PT. Freeport di tanah Papua hasil dari kekayaan alam tersebut diangkut tiap hari oleh kaum kapitalis seperti emas, timah, logam, uranium, dan lain-lain dalam jumlah skala besar.
2.      Kemampuan regulatif: Adalah kemampuan mengontrol, mengendalikan perilaku individu atau kelompok dlm sistem politik. Kemampuan Sistem Politik dalam mengontrol perilaku-perilaku individu atau kelompok  pada era SBY memang tidak bisa mengatakan sepenuhnya buruk karena para individu atau kelompok telah dicoba untuk diberantas, tetapi pada sisi lain individu atau kelompok yang mampu mengganggu kestabilan negara kian hari makin marak bersemi.
3.      Kemampuan distributive: Adalah kemampuan mengalokasikan berbagai jenis barang, jasa, kehormatan, status dan kesempatan. Pada era SBY sebenarnya dana alokasi untuk di distribusikan kepada rakyat sudah cukup banyak namun akibat lemanya pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah dana alokasi tersebut tidak sampai sasaran, tapi berhenti pada kantong celana oknum elit yang tidak bertanggungjawab (koruptor).  Contoh kecilnya, ketersediaan gedung sekolah dan kesehatan bagi masyarakat serta tenaga pengajar dan medis.
4.      Kemampuan simbolis: Adalah kemampuan untuk membangun pencitraan terhadap kepala negara atau juga rasa bangga terhadap negaranya. Misalnya adalah lagu-lagu nasional, upacara-upacara, penegasan nilai-nilai yang dimiliki, ataupun pernyataan-pernyataan khas sistem politik. Simbol adalah representasi kenyataan dalam bahasa ataupun wujud sederhana dan dapat dipahami oleh setiap warga negara. Dalam konteks kekinian, sistem politik di indonesia saat ini tidak melahirkan pemimpin yang memiliki jiwa kemimpinan, karismatik dan relegius. Seperti kita ketahui sosok pemimpin seperti Ir. Soekarno, yang karismatik dan Gusdur sebagai tokoh agama.
5.      Kemampuan responsive: Adalah  tanggap tidaknya terhadap tuntutan atau tekanan sistem politik dalam daya tanggap terhadap masyarakat. Seperti halnya, Reformasi yang telah melahirkan demokrasi namun belum juga mensejahterakan bangsa ini. Demokrasi sebagai sistem politik era pemerintah SBY hanya sebatas prosedural semata. Lemahnya respon pemerintah terhdap keluhan rakyat ternyata bukan hanya dalam negeri saja, tetapi diluar negeri juga lebih buruk lagi.
6.      Domestik dan internasional: Adalah kemampuan yang dimiliki pemerintah dalah hal bagaimana ia berinteraksi dilingkungan domestik maupun luar negeri. Dalam konteks kontemporer kemampuan domestik sistem politik masih lemah sehingga relasi antara pemerintah dan masyarakat kurang harmonis, hal ini tergambar dari berbagai aksi ketidakpercayaan publik terhadap kinerja pemerintah selama ini.

KEBIJAKAN HUKUM
Masalah penegakan hukum merupakan masalah yang selama ini dianggap paling krusial. Masalah-masalah hukum yang mulai dihadapi SBY terkait dengan bencana alam maupun bencana akibat kesalahan manusia yang terjadi pada awal pemerintahannya, mulai bencana tsunami di Aceh, gempa di Yogyakarta, jatuhnya pesawat Adam Air, sampai lumpur Lapindo di Sidoarjo dan bencana akibat pembagian BLT (bantuan langsung tunai) sebagai kompensasi BBM (bahan bakar minyak). Kemudian juga mulai muncul masalah kedaulatan negara dan hukum internasional yang terkait dengan kasus intervensi beberapa negara (Amerika Serikat dan Singapura) dalam pencarian lokasi jatuhnya Adam Air dan kotak hitamnya. Pemerintahan SBY, dapat membangkitkan semangat dan solidaritas kemanusiaan sampai tingkat internasional untuk memberikan bantuan bagi para korban bencana, selain penggunaan instrumen hukum untuk menanggulangi bencana alam melalui Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007.  SBY menunjukkan usaha secara signifikan penanggulangan bencana baik melalui aspek hukum nasional maupun aspek diplomasi dengan dunia internasional.
Kepemimpinan SBY yang selama ini dikritik sebagai kepemimpinan yang lamban dan lemah juga terlihat dalam beberapa kasus bertindak gamang dan terkesan mendua, bahkan satu kasus yang sampai saat ini belum terselesaikan, yaitu kasus pembunuhan Munir, SBY mulai bertindak kritis karena dipengaruhi oleh kegigihan dari Suciwati, istri almarhum, yang berhasil menarik perhatian kalangan internasional. Akan tetapi ketidaktegasan pemerintah SBY juga ternyata masih ada, terutama dalam penyelesaian kasus Soeharto yang sampai saat ini tidak ada perkembangan selanjutnya bahkan terkesan hilang tertutup oleh kasus-kasus lain. Sedangkan dalam beberapa kasus lainnya SBY dianggap telah bertindak benar dan konstitusionil, antara lain ketidakhadirannya dalam sidang interpelasi DPR untuk kasus persetujuan resolusi DK PBB atas nuklir Irak, maupun dalam memilih Boediono dan meninggalkan koalisi yang telah dibuatnya dengan beberapa partai lain.

KEADAAN PEREKONOMIAN
Selama masa pemerintahan SBY, perekonomian Indonesia memang berada pada masa keemasannya. Indikator yang cukup menyita perhatian adalah inflasi.
Sejak tahun 2005-2009, inflasi berhasil ditekan pada single digit. Dari 17,11% pada tahun 2005 menjadi 6,96% pada tahun 2009. Tagline strategi pembangunan ekonomi SBY yang berbunyi pro-poor, pro-job, dan pro growth (dan kemudian ditambahkan dengan pro environment) benar-benar diwujudkan dengan turunnya angka kemiskinan dari 36,1 juta pada tahun 2005, menjadi 31,02 juta orang pada 2010. Artinya, hampir sebanyak 6 juta orang telah lepas dari jerat kemiskinan dalam kurun waktu 5 tahun. Ini tentu hanya imbas dari strategi SBY yang pro growth yang mendorong pertumbuhan PDB.
Imbas dari pertumbuhan PDB yang berkelanjutan adalah peningkatan konsumsi masyarakat yang memberikan efek pada peningkatan kapasitas produksi di sector riil yang tentu saja banyak membuka lapangan kerja baru. Memasuki tahun ke dua masa jabatannya, SBY hadir dengan terobosan pembangunannya berupa master plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Melalui langkah MP3EI, percepatan pembangunan ekonomi akan dapat menempatkan Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2025 dengan pendapatan perkapita antara USS 14.250-USS 15.500, dengan nilai total perekonomian (PDB) berkisar antara USS 4,0-4,5 triliun.
KESIMPULAN
            Menurut uraian diatas, penulis menangkap beberapa kesimpulan bahwa kemampuan sistem politik dan moneter era pemerintahan SBY masih jauh dari yang diharapkan bangsa ini. Reformasi sebagai tuntutan untuk tercapainya rasa keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat ternyata juga belum bisa mengatasi berbagai persoalan bangsa dan negara keluar dari keterpurukan. Isu kenaikan BBM yang dianggap bukan hanya masalah subsidi tidak sampai sasaran tetapi krisis keuangan negara terhadap hutang kepada bank dunia dan IMF yang hampir mencapai 2000 triliun rupiah. Menggambarkan bahwa gagalnya pemerintah secara ekonomi politik dalam mengelolah dan memanfaatkan SDA Indonesia, sehingga terpaksa yang menanggung adalah rakyat masyarakat Indonesia sendiri. 


Sumber:
1.    Triyanto, M.si  (Modul Mata Kuliah “Sistem Politik dan Pemerintahan Indonesia” STPMD “APMD” Yogyakarta)